BANDUNG,(PR)- Kegagalan timnas bulutangkis Indonesia di ajang Kejuaraan Dunia 2006 di Madrid, Spanyol, akhir bulan lalu, ditengarai kekurangan teknik, mental, dan fisik para pemain Indonesia. Sementara, kemajuan pihak lawan di luar perhitungan.BANDUNG,(PR)- Kegagalan timnas bulutangkis Indonesia di ajang Kejuaraan Dunia 2006 di Madrid, Spanyol, akhir bulan lalu, ditengarai kekurangan teknik, mental, dan fisik para pemain Indonesia. Sementara, kemajuan pihak lawan di luar perhitungan.
”Selain itu, dalam sistem scoring 21 seperti sekarang segala sesuatunya dapat terjadi. Untuk menganti-sipasinya, diperlukan tingginya konsen-trasi dan konsistensi para pemain,” kata peraih medali emas Olimpiade Sidney 2000 Chandra Wijaya, saat ditemui di sela coaching clinic bulutangkis di GOR TTH, Kopo, Bandung, Rabu (4/10) malam.
Kegagalan pasangan Markis Kido/Hendra Setiawan pun menurut Chandra, adalah karena peak performance yang sudah lewat masanya. ”Padahal, dia baru menang dua minggu sebelumnya di Hong Kong,” katanya.
Perkembangan kompetisi bulutangkis dunia, lanjut Chandra, dewasa ini berkembang dengan sangat pesat. Untuk menyikapinya, persiapan teknik, mental, dan fisik pemain merupakan hal yang mutlak.
Pembinaan dini
Dengan begitu, maka pembinaan sejak dini, dinilai sangat diperlukan. Misalnya, seperti pembinaan dari sekian banyak PB yang terdapat di seluruh Indonesia.
”Untuk maju, kita harus dapat mengoptimalkan semua komponen dalam bulutangkis, karena prestasi itu tidak datang dari satu atau dua tahun saja,” kata Chandra yang menjadi Duta Samsung sejak lima tahun lalu
3 Comments
Comments RSS TrackBack Identifier URI
Leave a comment

kibarkan sangmerah putih
harumkan nama bangsa indonesia
indonesia menang !!!!!!!!!!!!!!!!!!
hidup indonesiaQ
kumandangkan indonesia raya di
UBER CUP