JAKARTA – “Nggak Ada Loe Nggak Rame”, slogan yang digunakan dalam ajang Sampoerna Hijau Proliga di tanah air mulai mengena di hati masyarakat untuk menyaksikan langsung perhelatan bola voli di tiap Gedung Olahraga (GOR) setempat.
Meski disetiap pertandingan bola voli di lima kota yaitu Jakarta, Bandung, Gresik dan D.I Yogyakarta serta Semarang dipenuhi penonton, namun sebagian masyarakat mulai jeli dan kritis menanggapi perkembangan prestasi pemain nasional. Pasalnya, dari enam klub putra-putri yang tampil di Proliga tahun 2005, masih bertumpu pada pemain senior dan asing. Dengan begitu pembibitan pemain yang berkesinambungan di tanah air belum berjalan sepenuhnya.
Hal itu membuat sebagian masyarakat mengeluh, kenapa sih pemain yang sudah usianya udzur masih diturunkan juga. Pertanyaan yang kritis dari masyarakat ini hendaknya harus mendapat jawaban dari PP PBVSI yang menjadi naungan olahraga bola voli di tanah air.
Pasalnya, bila pembibitan dan pertumbuhan pemain lokal tidak diperhatikan, dikhawatirkan penonton enggan datang menyaksikan langsung pertandingan bola voli. Hal itu tentunya akan berdampak minor terhadap sponsor yang biasanya setia memberikan suntikan dana untuk membantu pagelaran bola voli di tanah air bergulir tiap tahunnya.
Meski membina pemain menuju jenjang prestasi puncak itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, namun bila diramu dengan baik tidak menutup kemungkinan banyak bibit-bibit unggul yang tumbuh melalui ajang bola voli pelajar, maupun mahasiswa.
Bila pertandingan bola voli pelajar dan mahasiswa sudah menjamur di tanah air, tidak menutup kemungkinan para pemain yang datang dari dunia pelajar itu dijaring atau mencari sendiri klub-klub untuk menjadi naungannya. Kondisi seperti itu tampaknya di tahun-tahun belakangan ini mulai memudar.
Bahkan kini sudah tidak terlihat lagi pertandingan voli antar pelajar, baik tingkat SLTP, SLTA maupun mahasiswa. Hal seperti ini tentunya dibutuhkan uluran tangan dari PP PBVSI untuk mengetahui kenapa sih event antar pelajar yang dulunya rutin digelar setahun sekali, baik di jenjang daerah maupun provinsi sudah tidak ada lagi.
Menurunnya pertandingan bola voli antar pelajar juga diiringi pula merosotnya pertandingan bola voli antar Pengda PBVSI yang ada diseluruh tanah air. Hal ini yang sangat terlihat jelas, bahwa pembinaan bola voli di tanah air mengalami kemerosotan total. Padahal di tahun-tahun 1990-an banyak event-event bola voli di tanah air, baik kejuaraan nasional antar Pengda, Livokarya dan Livotama.
Namun memasuki era tahun 2000-an mulai dikemas dengan Livoli dan akhirnya melangkah ke Proliga yaitu event semiprofesional dengan mementaskan pemain asing.
Dominan
Pentas proliga dengan menggunakan pemain asing di setiap klub yang bertanding memang mendapat sambutan hangat dari semua masyarakat di tanah air.
Namun tampaknya kepiawaian pemain asing menjadi dominan untuk mengangkat sebuah tim menjadi tangguh. Semua itu terpantau dari putaran pertama Sampoerna Hijau Proliga yang bergulir di Jakarta, dan Bandung. Tanpa diperkuat pemain asing yang handal, sebagian besar klub-klub putra maupun putri sulit mengembangkan permainan akuratnya.
Sebagai contoh tim Bandung Art Deco yang tampil cemerlang karena diperkuat Michelle Collier dari Brasil. Melalui ketangkasannya baik saat melakukan smesh, block maupun dalam penempatan bola disektor lawan, mampu mengangkat citra tim asal Bandung itu.
Namun setelah di putaran kedua Jakarta Electric PLN Putri mendatangkan lagi pemain asal Cina, Tien Mei, maka ketangguhan tim Bandung Art Deco mendapat perlawanan akurat. Bahkan dapat dijinakkan oleh Tien Mei untuk mengatrol tim Electric melaju kesemifinal.
Keberadaan pemain asing yang handal dapat membaca peta kekuatan setiap klub yang bertanding di Proliga.
Kondisi itu yang membuat pemain asing mendapat sambutan hangat dari penonton saat menyaksikan pertandingan Sampoerna Hijau Proliga baik di putri maupun putra. Kepiawaian pemain asing ini tentunya menjadi cambuk bagi pemain nasional untuk mengikuti jejaknya. Namun hal itu sulit terealisir, pasalnya, pemain lokal yang tampil di Proliga sebagian besar adalah pemain senior yang sulit dikembangkan lagi prestasinya.
Dengan demikian, keberadaan pemain asing yang handal seharusnya dapat dijadikan peluang bagi setiap tim untuk mengkombinasikan dengan pemain lokal junior. Karena dengan sistem perpaduan pemain junior dan asing itu bisa membantu PP PBVSI dalam melakukan pembibitan dan pembinaan atlet menuju jenjang internasional. Kondisi seperti itu seharusnya ditanamkan pada setiap klub dalam perhelatan Proliga di tahun-tahun mendatang. Dengan harapan Proliga masih mendapat simpati penonton dan sponsor yang membiayai event tersebut. (str/suwarso
3 Comments
Comments RSS TrackBack Identifier URI
Leave a comment

mengapa di dunia ini slealahnkl……
main vooly yuk??????/
jaya volli proliga